Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Mengenal Horizon

Karena fisika adalah sunatulloh..maka mempeajarinya pun adalah ibadah.

Apa itu horizon?

Horizon adalah batas terjauh yang bisa teramati oleh kita. Dalam konteks kosmologi, horizon benar-benar seperti kaki langit, di mana semua pengamatan canggih kita tidak sanggup mengintip apa yang ada di belakang garis horizon tersebut.

Model alam semesta dari Teori Relativitas Umum memprediksi jarak horizon berbanding lurus dengan umur alam semesta. Belum ada angka pasti berapa jarak horizon ini, karena dalam perhitungannya melibatkan banyak asumsi dan parameter yang kita belum tahu angkanya.

Bagaimana horizon terbentuk?

Berdasarkan Teori Dentuman Besar, saat alam semesta berusia sekitar 10-36 sampai 10-32 detik terjadi inflasi besar-besaran: yaitu alam semesta membengkak 1020 sampai 1030 kali dalam waktu yang sangat singkat (sekitar 10-32 - 10-36 detik). Bisa dibayangkan betapa cepatnya percepatan pembengkakan yang dialami dunia kita saat itu.

Sementara itu, jarak horizon terhadap sebuah pengamat tetap berbanding lurus dengan umur alam semesta. Jadi saat terjadi inflasi, terjadi ketimpangan antara bertambahnya volume alam semesta dengan jarak horizon. (Lihat gambar.) Padahal, bisa jadi sebelum terjadi masa inflasi, kita benar-benar bisa melihat batas akhir alam semesta. Dengan kata lain, garis horizon adalah garis akhir alam semesta.

Akibat pembengkakkan mendadak itu, benda-benda langit di belakang horizon ikut menjauh dengan kecepatan yang luar biasa, jauh melebihi kecepatan cahaya. Akibatnya, benda-benda di belakang horizon tidak punya waktu yang cukup untuk mengirimkan sinyal keberadaannya ke pengamat di dalam horizon.

Setelah Masa Inflasi


Ilustrasi alam semesta saat masa inflasi. Titik P adalah pengamat, dan bagian yang diarsir adalah wilayah alam semesta yang tidak bisa dilihat oleh P. Jarak P ke horizon sebanding dengan umur alam semesta, sementara pengembangan alam semesta pada masa inflasi 1020 sampai 1030 kali. Hal ini membuat semakin banyak bagian alam semesta yang berada di belakang garis horizon.*klik gbr untuk memperbesar


Model alam semesta menurut Teori Dentuman Besar mennghitung bahwa pengembangan alam semesta sebanding dengan akar dari umur alam semesta. Artinya, batas horizon bergerak lebih cepat daripada pengembangan alam semesta. Beberapa perhitungan dari Teori Relativitas Umum menyatakan kecepatan horizon adalah dua sampai tiga kali kecepatan cahaya.

Akibatnya, benda-benda langit di belakang horizon berlahan-lahan akan masuk ke dalam horizon. Dengan demikian, benda-benda tersebut akhirnya bisa teramati. Namun, benda-benda langit yang masih di belakang horizon, tetap belum bisa diamati.

Efek dari masa inflasi tidak hanya ‘terlemparnya’ banyak objek langit ke luar garis horizon saja. Masa inflasi memberikan dua masalah besar pada pemahaman kosmologi kita, yaitu flatness problem dan horizontal problem.

Teori Relativitas Umum memberikan tiga solusi geometri alam semesta: tertutup, terbuka, dan datar. Flatness problem adalah data-data kosmologi yang ada sekarang menunjukkan geometri alam semesta kita datar, bukan tertutup seperti yang diprediksi Teori Dentuman Besar.

Sementara horizontal problem adalah mempersoalkan bagaimana alam semesta bisa homogen dan isotropik, baik di dalam garis horizon maupun di luar garis horizon. Bukti yang menguatkan adalah temperatur alam semesta yang nyaris rata: bagaimana caranya sebuah wilayah di dalam garis horizon memiliki temperatur 2.7° Kelvin mempengaruhi sebuah wilayah lain yang berada di belakang garis horizon, sehingga saat wilayah itu masuk ke dalam horizon temperaturnya sama, 2.7° Kelvin?

Alam semesta menyimpan banyak rahasia dan sudah menjadi tugas manusialah untuk menyingkapnya. Sebut saja Teleskop Ruang Angkasa Hubble yang telah membantu mengintip menembus jutaan tahun cahaya. Dan alangkah beruntungnya kita mendapat kesempatan mengetahui betapa luasnya alam ini.

Kalung Mutiara akibat Ledakan Bintang




Gambar di atas adalah Supernova yang diberi nama 1987A dan sudah diketahui sejak dua dekade lalu. Namun, bentuknya yang unik tersebut baru terungkap setelah dipotret Hubble pada Desember 2006 lalu.

Di bagian dalam lingkaran berwarna merah muda mungkin materi yang tertinggal saat ledakan dahsyat terjadi. Sementara bagian yang menyala terang di sekelilingnya merupakan lapisan terluar materi yang dipancarkan bintang saat memasuki masa-masa sekarat.


Kumpulan Bintang Berbentuk Tanda Tanya


Dengan bentuknya yang unik, berkilauan, serta terdiri dari berbagai warna, kumpulan bintang ini bergerak spiral ke bagian bawahnya yang tampak bagaikan sebuah titik. Gambar yang menawan ini diambil lebih dari 100.000 tahun cahaya oleh teleskop ruang angkasa HubblePancuran kosmik bintang, gas, serta debu tersebut disebut oleh Badan Antariksa AS (NASA) sistem Arp 194. Cahaya oranye pada bagian atas diyakini sebagai hamparan galaksi yang berada pada proses menyatu dalam satu himpunan kelompok bintang.


Mata di Luar Angkasa



Para ilmuwan menyebut gambar bintang yang berhasil ditangkap oleh sebuah teleskop raksasa di pegunungan Chili ini Mata Tuhan. Kelompok bintang yang disebut sebagai Mata Tuhan atau dikenal juga dengan sebutan Helix Nebula ini memandang bumi jauh dari ruang angkasa atau mencapai sekitar 700 tahun cahaya. Kumpulan warna tersebut terbentuk oleh lapisan gas dan debu yang diterbangkan serta dipancarkan oleh bintang yang akan berakhir masa hidupnya dalam kurun ribuan tahun mendatang. Matahari juga diperkirakan akan bernasib serupa dengan bintang ini kendati tidak dalam waktu 5 miliar tahun.


Horse Head Nebula



Nebula Kepala Kuda (dikenal juga sebagai Barnard 33) adalah Nebula yang gelap (dark) yang sekumpulan dengan bintang Orion. Jauhnya dari Bumi kira-kira 1.500 tahun cahaya. Nebula ini adalah Nebula yang paling mudah didentifikasi karena bentuk awan debu dan gasnya mirip kepala kuda. Nebula ini ditemukan oleh William Fleming pada tahun 1888.


Nebula Rose



Gambar diatas merupakan gambar Nebula Rose. Nebula Rose sempat membuat gempar karena jadikan rujukan sebagai tafsir dari salah satu ayat dari surat Ar-Rahman:

Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak. [Al Qur'an (55): 37]

Nebula Bunga Mawar adalah nebula yang sangat besar, letaknya di sekitar bintang Monoceros di area Galaxi “Milky Way”. Jaraknya sekitar 5.200 tahun cahaya dari Bumi. Mengenai Nebula ini sebenarnya mempunyai banyak variasi yang kesemuanya membuat kita berdecak kagum akan luasnya alam semesta ini. klik


Tangan yang Menyentuh Api



Gambar yang disebut Tangan Tuhan itu tidak lain adalah kumpulan awan biru yang membentuk rupa tangan yang hendak merengkuh kobaran api batu bara.

Gambar yang mengundang decak kagum ini berhasil diambil observatori sinar-X Chandra milik Badan Antariksa AS, NASA, yang mengorbit 579 kilometer di atas permukaan bumi. Gambar berupa tangan itu terbentuk akibat ledakan sebuah bintang dengan semburan cahaya terang benderang disertai pembentukan sebuah bintang baru selebar 9 kilometer yang berputar dengan kencang.

Maha Suci Dzat yang telah menciptakan langit dan Bumi dari ketiadaan.

Menarik menyimak argumentasi para peminat astronomi tentang makna sab'a samaawaat (tujuh langit). Namun ada kesan pemaksaan fenomena astronomis untuk dicocokkan dengan eksistensi lapisan-lapisan langit.

Di kalangan mufasirin lama pernah juga berkembang penafsiran lapisan-lapisan langit itu berdasarkan konsep geosentris. Bulan pada langit pertama, kemudian disusul Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus pada langit ke dua sampai ke tujuh.

Konsep geosentris tersebut yang dipadukan dengan astrologi (suatu hal yang tidak terpisahkan dengan astronomi pada masa itu) sejak sebelum zaman Islam telah dikenal dan melahirkan konsep tujuh hari dalam sepekan. Benda-benda langit itu dianggap mempengaruhi kehidupan manusia dari jam ke jam secara bergantian dari yang terjauh ke yang terdekat.

Bukanlah suatu kebetulan 1 Januari tahun 1 ditetapkan sebagai hari Sabtu (Saturday -- hari Saturnus -- atau Doyobi dalam bahasa Jepang yang secara jelas menyebut nama hari dengan nama benda langitnya). Pada jam 00.00 itu Saturnus yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Bila diurut selama 24 jam, pada jam 00.00 berikutnya jatuh pada matahari. Jadilah hari berikutnya sebagai hari matahari (Sunday, Nichyobi). Dan seterusnya.

Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi hari Bulan (Monday, getsuyobi, Senin), hari Mars (Kayobi, Selasa), hari Merkurius (Suiyobi, Rabu), hari Jupiter (Mokuyobi, Kamis), dan hari Venus (Kinyobi, Jum'at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.

Pemahaman tentang tujuh langit sebagai tujuh lapis langit dalam konsep keislaman mungkin bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga diambil dari kisah mi'raj Rasulullah SAW. Mi'raj adalah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha yang secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.

Secara sekilas kisah mi'raj di dalam hadits shahih sebagai berikut: Mula-mula Rasulullah SAW memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir.

Jibril juga mengajak Rasulullah SAW melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib.

Lapisan Langit?
Langit (samaa' atau samawat) di dalam Al-Qur'an berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak dikenal dalam astronomi.

Ada yang berpendapat lapisan itu ada dengan berdalil pada QS 67:3 dan 71:15 sab'a samaawaatin thibaqaa. Tafsir Depag menyebutkan "tujuh langit berlapis-lapis" atau "tujuh langit bertingkat-tingkat". Walaupun demikian, itu tidak bermakna tujuh lapis langit. Makna thibaqaa, bukan berarti berlapis-lapis seperti kulit bawang, tetapi (berdasarkan tafsir/terjemah Yusuf Ali, A. Hassan, Hasbi Ash-Shidiq, dan lain-lain) bermakna bertingkat-tingkat, bertumpuk, satu di atas yang lain.

"Bertingkat-tingkat" berarti jaraknya berbeda-beda. Walaupun kita melihat benda-benda langit seperti menempel pada bola langit, sesungguhnya jaraknya tidak sama. Rasi-rasi bintang yang dilukiskan mirip kalajengking, mirip layang-layang, dan sebagainya sebenarnya jaraknya berjauhan, tidak sebidang seperti titik-titik pada gambar di kertas.

Lalu apa makna tujuh langit bila bukan berarti tujuh lapis langit? Di dalam Al-Qur'an ungkapan 'tujuh' atau 'tujuh puluh' sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika kita mengenal istilah "tak berhingga" dalam suatu pendekatan limit, yang berarti bilangan yang sedemikian besarnya yang lebih besar dari yang kita bayangkan. Kira-kira seperti itu pula, makna ungkapan "tujuh" dalam beberapa ayat Al-Qur'an.

Misalnya, di dalam Q.S. Luqman:27 diungkapkan, "Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah." Tujuh lautan bukan berarti jumlah eksak, karena dengan delapan lautan lagi atau lebih kalimat Allah tak akan ada habisnya.

Sama halnya dalam Q. S. 9:80: "...Walaupun kamu mohonkan ampun bagi mereka (kaum munafik) tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampun...." Jelas, ungkapan "tujuh puluh" bukan berarti bilangan eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka bila kita mohonkan ampunan lebih dari tujuh puluh kali.

Jadi, 'tujuh langit' semestinya difahami pula sebagai benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.

Lalu apa makna langit pertama, ke dua, sampai ke tujuh dalam kisah mi'raj Rasulullah SAW? Muhammad Al Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi'ra, yang berarti menafsirkan tujuh langit dalam makna fisik. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha juga dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah isra' mi'raj adalah langit ghaib.

Dalam kisah mi'raj itu peristiwa fisik bercampur dengan peristiwa ghaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitur Makmur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, saya sependapat dengan Muhammad Rasyid Ridha dan lainnya bahwa pengertian langit dalam kisah mi'raj itu memang bukan langit fisik yang berisi bintang- bintang, tetapi langit ghaib.

(media.isnet.org )


Copyright 2006 | Andreas02v2 by GeckoandFly and TemplatesForYou | Design by Andreas Viklund
No part of the content or the blog may be reproduced without prior written permission.TFY Burajiru