Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam. Tampilkan semua postingan

Ayat Al-Quran Di Kulit Bayi

Beberapa waktu yang lalu kalangan umat muslim khususnya di daerah Rusia digemparkan dengan munculnya ayat-ayat al quran pada kulit Ali Yakubov, bayi yang masih berumur 9 bulan.

Ibu bayi itu, Madina Yakubova, mengatakan tulisan muncul pada Senin dan Jumat dan ditandai dengan suhu tubuh Ali menjadi sangat tinggi dan dia menangis. Tulisan itu secara berangsur-angsur hilang setelah tiga hari, dan kemudian muncul lagi. Lanjutnya, tulisan ayat-ayat Qur’an lama akan menghilang sebelum muncul tulisan-tulisan ayat Qur’an baru, biasanya hal tersebut terjadi seminggu dua kali. ibu Aliyang bernama Madina mengatakan dia dan suaminya bukanlah termasuk orang yang religius dalam beragama, mungkin dalam istilah kita kaum abangan.

Ulama muslim Rusia menafsirkan fenomena tersebut sebagai peringatan kepada seluruh Muslim Rusia dan Dagestan. Wallohualam.




sumber :
detik
kompas
okezone


Mengenal Horizon

Karena fisika adalah sunatulloh..maka mempeajarinya pun adalah ibadah.

Apa itu horizon?

Horizon adalah batas terjauh yang bisa teramati oleh kita. Dalam konteks kosmologi, horizon benar-benar seperti kaki langit, di mana semua pengamatan canggih kita tidak sanggup mengintip apa yang ada di belakang garis horizon tersebut.

Model alam semesta dari Teori Relativitas Umum memprediksi jarak horizon berbanding lurus dengan umur alam semesta. Belum ada angka pasti berapa jarak horizon ini, karena dalam perhitungannya melibatkan banyak asumsi dan parameter yang kita belum tahu angkanya.

Bagaimana horizon terbentuk?

Berdasarkan Teori Dentuman Besar, saat alam semesta berusia sekitar 10-36 sampai 10-32 detik terjadi inflasi besar-besaran: yaitu alam semesta membengkak 1020 sampai 1030 kali dalam waktu yang sangat singkat (sekitar 10-32 - 10-36 detik). Bisa dibayangkan betapa cepatnya percepatan pembengkakan yang dialami dunia kita saat itu.

Sementara itu, jarak horizon terhadap sebuah pengamat tetap berbanding lurus dengan umur alam semesta. Jadi saat terjadi inflasi, terjadi ketimpangan antara bertambahnya volume alam semesta dengan jarak horizon. (Lihat gambar.) Padahal, bisa jadi sebelum terjadi masa inflasi, kita benar-benar bisa melihat batas akhir alam semesta. Dengan kata lain, garis horizon adalah garis akhir alam semesta.

Akibat pembengkakkan mendadak itu, benda-benda langit di belakang horizon ikut menjauh dengan kecepatan yang luar biasa, jauh melebihi kecepatan cahaya. Akibatnya, benda-benda di belakang horizon tidak punya waktu yang cukup untuk mengirimkan sinyal keberadaannya ke pengamat di dalam horizon.

Setelah Masa Inflasi


Ilustrasi alam semesta saat masa inflasi. Titik P adalah pengamat, dan bagian yang diarsir adalah wilayah alam semesta yang tidak bisa dilihat oleh P. Jarak P ke horizon sebanding dengan umur alam semesta, sementara pengembangan alam semesta pada masa inflasi 1020 sampai 1030 kali. Hal ini membuat semakin banyak bagian alam semesta yang berada di belakang garis horizon.*klik gbr untuk memperbesar


Model alam semesta menurut Teori Dentuman Besar mennghitung bahwa pengembangan alam semesta sebanding dengan akar dari umur alam semesta. Artinya, batas horizon bergerak lebih cepat daripada pengembangan alam semesta. Beberapa perhitungan dari Teori Relativitas Umum menyatakan kecepatan horizon adalah dua sampai tiga kali kecepatan cahaya.

Akibatnya, benda-benda langit di belakang horizon berlahan-lahan akan masuk ke dalam horizon. Dengan demikian, benda-benda tersebut akhirnya bisa teramati. Namun, benda-benda langit yang masih di belakang horizon, tetap belum bisa diamati.

Efek dari masa inflasi tidak hanya ‘terlemparnya’ banyak objek langit ke luar garis horizon saja. Masa inflasi memberikan dua masalah besar pada pemahaman kosmologi kita, yaitu flatness problem dan horizontal problem.

Teori Relativitas Umum memberikan tiga solusi geometri alam semesta: tertutup, terbuka, dan datar. Flatness problem adalah data-data kosmologi yang ada sekarang menunjukkan geometri alam semesta kita datar, bukan tertutup seperti yang diprediksi Teori Dentuman Besar.

Sementara horizontal problem adalah mempersoalkan bagaimana alam semesta bisa homogen dan isotropik, baik di dalam garis horizon maupun di luar garis horizon. Bukti yang menguatkan adalah temperatur alam semesta yang nyaris rata: bagaimana caranya sebuah wilayah di dalam garis horizon memiliki temperatur 2.7° Kelvin mempengaruhi sebuah wilayah lain yang berada di belakang garis horizon, sehingga saat wilayah itu masuk ke dalam horizon temperaturnya sama, 2.7° Kelvin?

Tanah amblas dalam bahasa geologinya sering disebut sinkhole. Sinkhole atau luweng ini sering terjadi pada daerah yang batuan dasarnya (bedrock) berupa batugamping. Menakutkan yak..gimana kalo pas berdiri diatas permukaan tanah tiba2 BLUNG!!! tanahnya ambes masuk di telan bumi. Biasanya tanah amblas tidak terjadi seketika...ada tanda2 kalo tanah akan amblas..eit, tunggu dulu fenomena sinkhole dapat juga terjadi dalam waktu sekejab (ini yang ditakutin) bakal lenyap ditelen bumi.

Gimana cara mengenalinya...

1. Pertama ini terjadi pada daerah yang batuan dasarnya (bedrock-nya” adalah batugamping.

2. Gejala-gejala sebelum terjadinya amblesan ini sering didahului oleh gejala-gejala perubahan sitem hydrologi. Adanya danau baru segera setelah hujan (air limpasan) terutama pada daerah cekungan.

3. Dijumpai retakan-retakan tanah. Misalnya pohon-pohon yang miring menuju kearah titik yang sama (pusat amblesan), pintu susah ditutup karena mleyot-mleyot.

Berhubung saia bukan anak jur. geologi saia kurang tau gimana proses terjadinya secara mendeail...so penjelaskannya secara kasar aja..

Kira2 gambarnya prosesnya seperti ini (dari kenalan, mas Roviky). Klik gambar untuk memperjelas.



1. Pada awalnya ada sebuah retakan yang membentuk lubang akibat masuknya air. Daerah ini biasanya terjadi pada daerah yg tersusun oleh batu gamping

2. Karena adanya aliran bawah tanah, maka akan muncul rongga karena bagian bawah terjadi erosi oleh aliran sungai bawah tanah.

3-4-5-6 Proses ini berlangsung terus menerus dengan kikisan serta jatuhan dari batuan diatasnya. Hingga akhirnya bolongan ini membentuk ruang cukup lebar dan “jembatan” dibagian atas tidak kuat menahan dan



7. BLUNG !!! Lubang ini tidak seluruhnya memenuhi hingga dasar terbawah, karena volume yang mengisi batuan atas tidak seluruhnya hilang.

lubang-lubang raksasa akibat sinking hole dapat dilihat di sini
*artikel ini juga pernah saya postkan di kaskus. :)

Salju..dari mana engkau??

Saat ini di Eropa dan wilayah Utara Bumi memasuki musim dingin. Salah satu fenomena menarik saat musim dingin adalah salju. Menjadi unik karena kristal-kristal es yang lembut dan putih seperti kapas ini hanya hadir secara alami di negeri empat musim atau di tempat-tempat yang sangat tinggi seperti puncak gunung Jayawijaya di Irian. Kenapa salju secara alami tidak bisa hadir di wilayah tropis seperti negeri kita?

Rata Penuh

Proses terjadinya salju

Untuk menjawab itu, bisa kita mulai dari proses terjadinya salju. Berawal dari uap air yang berkumpul di atmosfir Bumi, kumpulan uap air mendingin sampai pada titik kondensasi (yaitu temperatur di mana gas berubah bentuk menjadi cair atau padat), kemudian menggumpal membentuk awan. asd

Pada saat awal-awal pembentukan awan, massanya jauh lebih kecil daripada massa udara sehingga awan tersebut mengapung di udara – persis seperti kayu balok yang mengapung di atas permukaan air. Namun setelah kumpulan uap terus bertambah dan bergabung ke dalam awan tersebut, massanya juga bertambah, sehingga pada suatu ketika udara tidak sanggup lagi menahannya. Awan tersebut pecah dan partikel airpun jatuh ke Bumi.

Partikel air yang jatuh itu adalah air murni (belum terkotori oleh partikel lain). Air murni tidak langsung membeku pada temperatur 0 derajat Celcius, karena pada 0 derajat Celcius adalah perubahan fase dari cair ke padat. Untuk membuat air murni beku dibutuhkan temperatur lebih rendah daripada 0 derajat Celcius – ini juga terjadi saat kita menjerang air, air menguap kalau temperaturnya di atas 100 derajat Celcius karena pada 100 derajat Celcius adalah perubahan fase dari cair ke uap. Untuk mempercepat perubahan fase sebuah zat, biasanya ditambahkan zat-zat khusus, misalnya garam dipakai untuk mempercepat fase pencairan es ke air.

Biasanya temperatur udara tepat di bawah awan adalah di bawah 0 derajat Celcius (temperatur udara tergantung pada ketinggiannya di atas permukaan air laut). Tapi temperatur yang rendah saja belum cukup untuk menciptakan salju. Saat partikel-partikel air murni tersebut bersentuhan dengan udara, maka air munri tersebut terkotori oleh partikel-partikel lain. Ada partikel-partikel tertentu yang berfungsi mempercepat fase pembekuan, sehingga air murni dengan cepat menjadi kristal-kristal es.

Partikel-partikel pengotor yang terlibat dalam proses ini disebut nukleator, selain berfungsi sebagai pemercepat fase pembekuan juga perekat antar uap air. Sehingga partikel air (yang tidak murni lagi) bergabung bersama dengan partikel air lainnya membentuk kristal lebih besar. Jika temperatur udara tidak sampai melelehkan kristal es tersebut, maka kristal-kristal es jatuh ke tanah. Dan inilah salju! Jika tidak, maka kristal es tersebut meleleh dan sampai ke tanah dalam bentuk hujan air. Pada banyak kasus di dunia ini, proses turunnya hujan selalu dimulai dengan salju beberapa saat dia jatuh dari awan tapi kemudian mencair saat melintasi udara yang panas. Kadangkala, jika temperatur sangat rendah, kristal-kristal es itu bisa membentuk bola-bola es kecil dan terjadilah hujan es – kota Bandung termasuk yang relatif sering mengalami hujan es.

Jadi ini sebabnya kenapa salju sangat susah turun secara alami di daerah tropik yang memiliki temperatur udara relatif tinggi di banding wilayah yang sedang mengalami musim dingin.
Yang unik dari salju

Kristal salju memiliki struktur unik, tidak ada kristal salju yang memiliki bentuk yang sama di dunia ini (lihat Gambar SnowflakesWilsonBentley.jpg) – ini seperti sidik jari kita. Bayangkan, salju sudah turun semenjak Bumi tercipta hingga sekarang, dan tidak satupun salju yang memiliki bentuk struktur kristal yang sama!

Keunikan salju yang lainnya adalah warnanya yang putih. Kalau turun salju lebat, maka hamparan Bumi menjadi putih, bersih, dan seakan-akan bercahaya. Ini disebabkan karena struktur kristal salju memungkinkan salju untuk memantulkan semua warna ke semua arah dalam jumlah yang sama, maka muncullah warna putih. Fenomena yang sama juga bisa kita dapati saat melihat pasir putih, bongkahan garam, bongkahan gula, kabut, awan, dan cat putih.

Selain itu, turunnya salju memberikan kehangatan. Ini bisa dipahami dari konsep temperatur efektif. Temperatur efektif adalah temperatur yang dirasakan oleh kulit kita, dipengaruhi oleh tiga besaran fisis: temperatur terukur (oleh termometer), kecepatan pergerakan udara, dan kelembaban udara. Temperatur efektif biasanya dipakai untuk menentukan “zona nyaman”. Di pantai temperatur terukur bisa tinggi, namun karena angin kencang kita masih merasa nyaman. Pada saat salju turun lebat, kelembaban udara naik dan ini mempengaruhi temperatur efektif sehingga pada satu kondisi kita merasa hangat.

Jadi Anda bisa mengirim ungkapan romantis kepada teman anda, “cintaku sehangat salju”. Kalau dia tidak paham, kesempatan untuk Anda menjelaskan fenomena ini. Fisikapun bisa menjadi senjata handal bagi mereka yang sedang pedekate.


Copyright 2006 | Andreas02v2 by GeckoandFly and TemplatesForYou | Design by Andreas Viklund
No part of the content or the blog may be reproduced without prior written permission.TFY Burajiru